Langsung ke konten utama

CARA MENGAJAR ANAK TOILET TRAINING

Mengajar anak toilet training

Setiap anak memang memiliki kecepatan perkembangan yang berbeda. Saat anak pertama dulu, urusan mengajar anak toilet training terasa begitu mudah. Si kakak yang dulu masih berusia dua tahun, sukses lepas pampers tanpa banyak drama. 

Namun, tidak demikian dengan anak kedua saya. Tantangan mengajar anak toilet training terasa lebih berat. Sekarang usia si tengah sudah lewat tiga tahun dan ia baru saja bisa lepas pampers. Terlepas dari mudah atau sulitnya mengajar anak toilet training, perkara ini memang butuh ketelatenan dan kesabaran dari orang tua. Kita membantu proses anak untuk berkembang, namun tetap mengikuti ritme anak.

Baca juga: Cara Menyapih Anak

APA ITU TOILET TRAINING?

Toilet training adalah cara-cara yang dilakukan secara bertahap untuk membantu anak mandiri ke toilet. Seperti juga pada tahap perkembangan anak lainnya, toilet training juga membutuhkan proses. Proses ini berbeda pada setiap anak, bisa cepat atau bisa lebih lambat. Hal yang perlu diingat dalam memandu anak dalam proses perkembanganya adalah membuat anak merasa nyaman.

KAPAN IDEALNYA MEMULAI TOILET TRAINING?

Toilet training bisa dimulai sejak anak bisa menyebutkan secara jelas keinginannya, biasanya sekitar usia dua tahun. Beberapa orang tua ada yang mulai mengajarkan toilet training lebih dini. Hal ini bukan masalah, selama anaknya nyaman menjalani prosesnya.

Anak yang terbiasa menggunakan pampers biasanya akan lebih kesulitan untuk menjalani proses toilet training. Akan tetapi, dengan pembiasaan dan kesabaran, Insya Allah toilet training tetap dapat berhasil dilakukan.

CARA MENGAJAR ANAK TOILET TRAINING

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengajar anak toilet training. Namun yang perlu diingat adalah memastikan cara tersebut menyenangkan dan nyaman bagi anak. Mengapa hal ini penting? Tentu saja untuk menghindari trauma pada anak. Proses yang dipaksakan bisa membuat anak frustrasi dan tidak nyaman. Ini bisa membuat anak justru mengalami kemunduran. Jalani proses bersama dengan santai dan menyenangkan dengan demikian, anak dan Anda tidak akan stres melakukannya.

Dari pengalaman saya mendampingi si tengah menjalani toilet training, mendorong anak secara berlebihan untuk segera bisa ke kamar mandi sendiri justru membuat anak mengalami kemunduran. Anak jadi antipati dan takut untuk ke toilet. Jika sudah demikian, kita perlu melakukan jeda untuk mengembalikan mood anak. Berikut ini adalah cara-cara yang saya lakukan untuk mengajar anak toilet training.

Afirmasi

Bagian terpenting dari memulai sebuah proses toilet training adalah membuat anak untuk menyadari proses yang akan ia jalani. Ngobrol adalah salah satu cara mengajar anak toilet training pada tahap awal. Saya ajak bicara si tengah kalau diusianya yang menginjak tiga tahun (saat itu), anak biasanya sudah tidak menggunakan pampers. Lalu, saya ajak si tengah untuk memulai prosesnya dengan berkata, "hari ini/besok kita belajar pipis dan eek di kamar mandi, yuk!" Hal ini dilakukan agar anak mempersiapkan diri bahwa akan ada perubahan yang terjadi di dalam hidupnya, yaitu belajar BAK dan BAB di kamar mandi.

Ajarkan Anak Ciri-ciri Rasa Ingin BAB dan BAK

Jelaskan pada anak ciri-ciri ingin BAB dan BAK. Ini untuk membantu anak mengenali tubuhnya. Jangan berharap bahwa cara ini akan secara instan berhasil. Tidak perlu frustrasi jika anak masih tetap BAB atau BAK di celana meski Anda sudah menjelaskan berulang kali. Sabar saja untuk terus menjelaskan kepada anak. Mereka akan paham seiring dengan terbangunnya kesadaran akan tubuhnya sendiri.

Tawarkan Beberapa Opsi Pada Anak

Anaklah yang akan menjalani proses toilet training. Maka jadikan proses toilet training nyaman untuknya. Beberapa anak ada yang nyaman menggunakan tambahan dudukan pada toilet, namun tidak demikian dengan anak saya. Ia lebih suka menggunakan pispot. Jika hal yang mirip juga terjadi pada anak Anda, hal itu tidak masalah. Jangan paksakan anak Anda jika belum nyaman duduk langsung di toilet. Tidak masalah juga untuk mencoba beberapa opsi untuk mengetahui metode apa yang paling nyaman dijalani anak Anda.

Potty Training
Hal terpenting dalam proses mengajar anak toilet traning adalah anak nyaman dan bahagia menjalaninya. (Sumber foto: Pixabay)


Tawarkan Anak ke Toilet Secara Berkala

Untuk membangun kebiasaan mandiri ke toilet, anak perlu dibiasakan dengan mengajaknya ke toilet 1-2 jam sekali. Hal ini juga karena anak-anak usia dini biasanya belum mampu membedakan rasa ingin BAK dan BAB sendiri. Ajak anak dengan persuasif dan tidak perlu dipaksa. Jika anak menolak, tawarkan kembali beberapa menit kemudian. Seiring berjalannya waktu, anak akan membentuk ritme sendiri. Dari pengamatan saya terhadap si tengah, pada akhirnya ia jadi punya waktu BAK dan BAB yang terjadwal. Kalau pun saya lupa mengingatkan, kemungkinan besar ia akan merasa ingin buang air di kisaran jam yang biasanya.

Biarkan Anak Basah

Saya pernah membaca di sebuah buku bertema Montessori, saat mengajar anak toilet training, anak sesekali perlu dibiarkan mengompol. Tujuannya agar ia merasakan sensasi basah dan kurang nyaman, sehingga ia akan mengenali sendiri ritme buang airnya. Biasanya anak akan lebih menyadari sensasi yang ia rasakan sebelum buang air kecil dan akan terbiasa olehnya. Pada akhirnya, ketika anak sudah bisa mengemukakan keinginannya, ia akan bilang sendiri saat ingin buang air.

Tidak Perlu Bereaksi Berlebihan

Lalu bagaimana ketika anak terlanjur buang air di celana?

Tidak perlu bereaksi berlebihan dengan marah atau semacamnya. Kegagalan adalah bagian dari proses. Anak dan Anda sedang sama-sama belajar. Anak Anda belajar untuk pergi ke toilet sendiri sedangkan Anda belajar untuk menikmati proses.Jika anak Anda mengompol, cukup Anda tanyakan perasaannya. Apakah ia merasa nyaman mengenakan celana yang basah? Ingatkan ia kembali tentang komitmen untuk memberi tahu Anda sebelum BAK atau BAB. Lalu bersihkan sebagaimana mestinya. Anak biasanya akan lupa memberitahu Anda ketika sedang asyik bermain. Maka, jangan bosan untuk mengingatkannya ke kamar mandi, ya.

Rayakan Keberhasilan

Setiap anak berhasil buang air di kamar mandi, Anda bisa memberikannya apresiasi. Bentuk apresiasi bisa berupa pujian atau token stiker yang bisa ditukar dengan hadiah. Akan tetapi, pemberian reward berupa hadiah harus hati-hati. Agar anak tidak terbiasa melakukan sesuatu hanya demi hadiah. Anda dan ananda juga bisa merayakan bersama dengan memberi celana dalam lucu pilihannya sebagai hadiah karena sudah berhasil buang air di kamar mandi.

Kunci dari cara mengajar anak toilet traning adalah kesabaran. Ingatlah bahwa segala proses membutuhkan waktu. Penting pula bagi Anda untuk selalu mengapresiasi perkembangan meski sedikit. Buatlah proses mengajar anak toilet training menjadi menyenangkan. Dengan begitu, anak bisa menikmati setiap proses perubahan yang terjadi pada dirinya. Anda juga tidak perlu merasa bersalah jika belum berhasil. Anda hanya perlu mencoba dan mencoba lagi.

Namun, apabila anak Anda tidak menunjukan perkembangan yang berarti dalam jangka waktu lama, padahal Anda sudah berupaya maksimal, mungkin Anda perlu memeriksakan kondisi anak Anda ke dokter. Hal ini untuk mengetahui apakah ada indikasi medis pada anak Anda. Dengan demikian, hal tersebut bisa ditanggulangi secepatnya.

Komentar

  1. Rani R Tyas26 April 2021 04.18

    Makasih Mbak sudah menuliskan ini. Kami masih sangat kesulitan proses toilet training ini. Anak-anak selalu menjerit tiap lihat toilet, padahal sudah ditambahi toilet duduk (tambahan untuk anak).

    Pun, dia sepertinya sudah paham kadang mau pipis ke kamar mandi, tapi masih enggan lepas popok.

    Doakan kami supaya lekas berhasil ya Mbak karena kami kasihan juga kalau anaknya sampai diejek teman-temannya. 😞

    BalasHapus
    Balasan
    1. Positive Mom29 April 2021 20.37

      Aaamiin... semoga dimudahkan proses TTnya ya Mbak. Anak saya juga belum mau pakai dudukan toilet, akhirnya saya kasih pispot. Dulu kalau langsung ke toilet dia juga suka jerit histeris, katanya takut jatuh. Tapi sekarang sudah mulai mau coba sih, hanya memang selama ini lebih banyak pakai pispot.

      Hapus
  • Alvianti - Memories.id28 April 2021 19.29

    Butuh banget kesabaran ya bun. Masih proses kah toilet training anak keduanya bun? Kalau sudah berhasil, butuh waktu berapa bulan bun?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Positive Mom29 April 2021 20.32

      Beda-beda Bun. Kalau anak tengah saya ini sekitar satu bulan intensif. Cuma sebetulnya sudah mulai dibiasakan sejak dua bulan sebelumnya. Cuma karena waktu itu saya lagi hamil besar, jadi saya sempat tunda dulu,hehe

      Hapus
  • Marita Ningtyas29 April 2021 00.55

    Anak bontotku baru mulai toilet training pas udah 3.5 tahun. Karena dulu fokus nyapih yang molor. Akhirnya dengan segala drama sekarang udah cukup oke. Meski kalau tidur malam masih sering ngompol.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Positive Mom29 April 2021 20.31

      Iya... memang beda-beda ya Mbak. Makanya saya mah lihat kesiapan anaknya masing-masing aja. Dulu saya juga termasuk yang masih ngompol padahal udah gede,wkwkwk.

      Hapus
  • celotehnur5429 April 2021 11.52

    Tips yang bermanfaat. Saya punya pengaaman ngasuh cucu. Sukanya merahasiakan rasa mau BAB. Kadang pampersnya udah penuh. Tetapi dia tidak ngaku kalau tinjanya udah keluar. Hal serupa tidak pernah terjadi pada anak-anak saya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Positive Mom29 April 2021 20.29

      Hehe... Masya Allah... luar biasa euy. Semangat eyang :D

      Hapus
  • Laily Fitriani29 April 2021 17.47

    Mengajari anak toilet training butuh kesabaran ya Mbak. Tapi memang harus diajarkan toilet training sejak dini ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Positive Mom29 April 2021 20.25

      Enggak harus sih Mbak, tergantung anaknya. Namun pembiasaan sejak awal kalau menurut saya perlu. Mengingat proses toilet training ini terkadang berlangsung lama dan enggak instan. Saya pernah baca di salah satu referensi kalau mandiri ke toilet itu salah satu indikasi kesiapan anak bersekolah. Tapi balik lagi, harus senyaman anaknya. Tugas ortu hanya memandu. :)

      Hapus
  • lailyfitrianimenulis29 April 2021 21.02

    Bener banget nih Mbak, harus banyakin stok sabar untuk tolet training ini yah. Semangat Mbak.

    BalasHapus
  • Anak pertamaku gampang banget, sebelum 2 tahun udh lulus. Anak kedua challenging bgt, 2 tahun belum mulai haha

    BalasHapus
  • Nani Herawati30 April 2021 16.50

    Saya pernah mengalami susahnya toilet training anak pertama. Alhamdulillah yang kedua sam0ai terakhit lebih mudah karena lebih berpengalaman.

    Keren Mbak

    BalasHapus
  • wah jadi ingat saat saat ajak anak-anak toilet training
    memang harus sabar dan konsisten kuncinya
    sabar dgn prosesnya ya mbak

    BalasHapus
  • Lidya Fitrian1 Mei 2021 04.06

    Cara mengajarkan toilet training selain afirmasi juga ada kekonsistenan dari orangtua ya. Dulu aku pakai waktu gitu menawarkan anak-anak ke kamar mandi, di malam hari juga. Alhamdulillah gak sampa seminggu sudah terbiasa,

    BalasHapus
  • lendyagasshi1 Mei 2021 09.01

    Senang sekali berbagi masalah toilet training.
    Zaman aku dulu, karena miskin ilmu, begitu anaknyajalan, langsung aku biasain untuk BAK dan BAB di toilet. Padahal cara yang terlalu dini bisa membuat si anak trauma yaa...karena merasa dipaksa.
    Heuheuu~

    BalasHapus
  • atinnuratikah1 Mei 2021 10.56

    Macam-macam ya menghadapi dan mengajari anak toilet training, ada yang sulit ada yang mudah. Masing-masing memiliki pengalaman dan aku termasuk memiliki pengalaman yang dimudahkan. Karena anak termasuk yang jarang kupakaikan diapers, kalau pergi keluar rumah aja. Di rumah pakai popok kain biasa.

    BalasHapus
  • andyhardiyanti1 Mei 2021 11.51

    Anak kedua saya diajarkan toilet training di masa pandemi. Alasannya biar gak boros popok. Eh Alhamdulillah seminggu diajarkan, dianya udah bisa.

    BalasHapus
  • Hana Aina7 Mei 2021 05.31

    Terimakasih sharing-nya. Ilmu yang bermanfaat banget buatku kelak. Emang, ya. Yang seperti ini tidak bisa dipaksakan. Namun anak bisa diarahkan ��

    BalasHapus
  • Mengajarkan toilet training ini menjadi tantangan tersendiri ya bagi para ibu :)
    Saya kalau disuruh ingat2 lagi kok lupa, dulu gimana perjuangannya untuk 3 anak :D
    Alhamdulillah terlewatilah ..... :D

    BalasHapus
  • Tambahkan komentar

    Posting Komentar

    Hai! Terima kasih sudah membaca artikel ini. Silahkan tinggalkan komentar untuk saran dan masukan atau jika Moms menyukai tulisan ini. Mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar yah dan komentar Moms akan dimoderasi untuk kenyamanan pembaca blog ini. Salam! (^,^)

    Postingan populer dari blog ini

    CARA MEMBUAT ECO ENZYME

    Setelah berkomitmen untuk belajar gaya hidup hijau, keluarga kami mulai mengkonversi segala produk yang dapat merusak lingkungan, salah satunya adalah sabun. Setelah berhasil membuat sabun lerak, saya pun penasaran membuat jenis sabun lainnya. Kali ini sedikit lebih ekstrem, saya membuatnya dari sampah organik rumah tangga. Dari sampah bisa jadi bahan pembersih? Masa sih? Bisa saja.  Baca juga:  MENCUCI DENGAN SABUN LERAK Dikembangkan oleh Dr. Rosukon Poompanvong, eco enzyme atau cairan organik dari olahan sampah organik rumah tangga bisa dibuat sebagai bahan pembersih. Apa itu eco enzyme? Eco enzyme adalah hasil olahan limbah dapur yang difermentasi dengan menggunakan gula. Limbah dapur dapat berupa ampas buah dan sayuran. Gula yang digunakan pun bisa gula apa saja, seperti gula tebu, aren, brown sugar,dll). Saya pribadi belum berani bikin dari ampas dapur yang aneh-aneh. Saya buat dari kulit buah jeruk dan apel. Agar hasil eco enzyme-nya wangi,hehe. Cara membuat eco

    MENGATASI DERMATITIS ATOPIK PADA ORANG DEWASA

    Moms yang punya anak bayi mungkin sudah familiar dengan istilah Dermatitis Atopik atau Eczema. Dermatitis atopik adalah kondisi kulit kronis yang menyebabkan serangan gatal-gatal yang kemudian menyebabkan kulit menjadi kering keabuan dan pecah hingga berdarah. Kondisi dermatitis atopik ini umumnya muncul pada bayi dan menghilang seiring dengan pertambahan usia anak. Tapi, tahukah, Moms, kalau ternyata dermatitis atopik juga dapat menyerang orang dewasa? Itulah yang terjadi pada saya, riwayat alergi dan asma yang menurun dari si mamah membuat saya menderita penyakit kulit ini.  dermatitis atopik pada orang dewasa biasanya muncul pada rentang usia 20-30an. Awalnya kulit saya biasa saja. Namun, sekitar tahun 2016, muncul beberapa lenting kecil di jari manis yang kemudian menyebar di seluruh tangan kiri. Lenting atau benjol kecil iti biasanya pecah atau mengering sendiri menjadi kulit yang terkelupas. Tak jarang, kulit terkelupas ini juga meninggalkan luka yang sampai berdarah.

    BERKUNJUNG KE KEBUN RAYA BOGOR DI TENGAH PANDEMI

    Sejak corona merebak, praktis selama nyaris lima bulan, kami betul-betul di rumah saja. Pergi ke minimarket pun bisa dihitung pakai jari satu tangan. Saya yang biasanya lebih suka di rumah, bahkan sudah mulai jengah. Indikatornya terlihat ketika saya gampang banget marah-marah. Si sulung juga mulai rungsing, pasalnya saya enggak izinkan ia untuk main sepeda sama teman-temannya. Bukan apa-apa, anak-anak masih sangat teledor menjaga kebersihan. Pernah sekali saya izinkan si sulung dan si tengah untuk main bareng teman-temannya. Baru beberapa menit keluar, maskernya sudah entah kemana. Saya dan suami memang berencana untuk mengajak anak-anak untuk berwisata ke Kebun Raya Bogor. Pertimbangannya karena lokasi yang dekat dengan rumah ditambah ruang terbuka yang kami asumsikan lebih aman untuk menjaga diri dari paparan corona. Itu pun maju mundur. Baru berniat pergi di awal minggu, tiba-tiba lihat di media kasus corona bertambah lebih dari seribu. Ciut saya tuh ... daripada